Hari
Sabtu, 22 Juni 2025, jadi hari yang nggak bakal saya lupakan begitu saja.
Setelah sekian lama nggak tampil di depan orang banyak, saya dan Iqbal
tiba-tiba ditugaskan oleh Pak Delvi untuk memandu sesi pelatihan Digital
Marketing di Surau Kabbah. Kami diminta membawakan materi seputar cara mengedit
video menggunakan aplikasi CapCut. Kedengarannya simpel, tapi kenyataannya...
jantung saya sempat nyaris minta cuti.
Awalnya,
saya sempat mikir, “Saya sendiri kadang masih cari-cari tombol ‘hapus’ di
CapCut, kok sekarang malah ngajarin orang?” Tapi tenang, saya nggak sendirian.
Iqbal jadi teman seperjuangan dalam menyampaikan materi. Sayangnya, di tengah
sesi, dia harus izin karena ada keperluan mendadak. Jadi ya, tinggal saya yang
berdiri sendiri di depan peserta. Goyang dikit, tapi tetap lanjut!
Pak Delvi
memang punya visi yang keren bukan cuma membekali peserta dengan ilmu, tapi
juga memberi kami kesempatan belajar tampil dan ngomong di depan umum. Rasanya
seperti disuruh berenang sebelum tahu teknik gaya bebas, tapi ternyata, begitu
nyemplung, ya... bisa juga! 😄
Kami
mengenalkan CapCut sebagai aplikasi edit video yang praktis, bisa digunakan
langsung dari HP. Sesi dibawakan langkah demi langkah: mulai dari memasukkan
video, memotong klip, menambahkan teks dan musik, hingga efek transisi dan
filter. Semua langsung dipraktikkan. Jadi kalau ada yang bingung, tinggal
tunjuk tangan atau minta tolong teman sebelah.
Yang
paling bikin semangat adalah antusiasme peserta. Mereka aktif, penasaran,
bahkan beberapa lebih cepat paham dari saya waktu awal-awal belajar dulu. “Lho,
Kak, ternyata edit video gampang ya?” katanya. Saya senyum sambil dalam hati
bilang, “Coba bilang itu ke saya yang semalam belajar ulang biar nggak
malu-maluin.”
Bagi saya
pribadi, ini bukan sekadar berbagi ilmu. Ini latihan berharga: belajar
menyampaikan materi dengan jelas, belajar menjawab pertanyaan tanpa panik, dan
belajar menyesuaikan bahasa supaya semua peserta bisa paham dari yang baru
kenal CapCut sampai yang sudah sering bikin konten.
Pelatihan
di Surau Kabbah mengingatkan saya bahwa tempat belajar itu bisa di mana saja.
Tidak harus ruang kelas mewah. Bahkan dari surau kecil nan sederhana, bisa
lahir pengalaman besar yang membekas di hati.
Semoga
kegiatan seperti ini terus berlanjut. Supaya makin banyak yang bisa belajar,
berbagi, dan kalau perlu deg-degan bareng di depan peserta. Tapi jangan
khawatir, deg-degannya cuma di awal… selebihnya, insya Allah jadi kenangan
manis dan ketawa sendiri.
