Senin, 16 Juni 2025, dan aku masih saja lupa sudah berapa hari pelatihan digital marketing ini berjalan. Yang kuingat pasti pelatihan ini akan berakhir pada tanggal 28 nanti, hehe.
Pagi ini dimulai dengan cuaca mendung. Tapi mendung itu tak bertahan
lama matahari seakan juga tak mau kalah,
perlahan menghalau awan mendung dan menggantikannya dengan sinar yang cukup terik.
Syukurnya aku berada di dalam Surau Kabbah, tempat pelatihan ini berlangsung,
dan AC-nya cukup menyejukkan suasana belajar.
Hari ini, materi yang dibawakan oleh Pak Delvi, mentor kami, cukup
menarik yaitu Memberdayakan Konten Media Sosial untuk Menarik Pelanggan
Retail. Seperti biasa, beliau memulai sesi dengan gaya santai namun tetap
penuh wibawa. Hanya saja, pagi ini tidak ada sesi refresh seperti biasanya.
Mungkin beliau menganggap para peserta masih terlihat segar dan semangat.
Usai materi, kami mendapat tugas membuat video bertema “Segala yang
Ada di Sekitar Lingkungan Surau Kabbah.” Tanpa berpikir panjang, aku memilih
untuk merekam surau itu sendiri. Bukan hanya karena bangunannya yang menyerupai
banunan Kabbah di kota kota Mekkah, tapi karena bagiku, surau ini lebih dari
sekadar tempat ibadah ia adalah simbol dan harapan.
Surau Kabbah dibangun oleh Bupati Agam, Inyiak Beny Warlis. Dari
yang kutahu, beliau membangunnya bukan hanya sebagai tempat sembahyang, tetapi
sebagai bentuk reinterpretasi filosofi surau dalam masyarakat Minangkabau.
Surau yang dulunya menjadi pusat pendidikan adat dan agama, kini dihidupkan kembali
dengan cara yang lebih kontekstual salah satunya dengan menyelenggarakan
pelatihan digital marketing di dalamnya.
Pelatihan ini sendiri diadakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK)
Kabupaten Agam. Pilihan tempatnya sangat menarik, bukan aula, bukan kantor,
bukan hotel, tapi surau. Ini bukan sekadar simbolik. Ini adalah pernyataan.
Bahwa tempat yang dianggap tradisional bisa menjadi ruang belajar yang relevan
dan adaptif.
Di tengah semua itu, aku teringat akan falsafah utama masyarakat
Minang: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Syarak mangato,
adat mamakai.” Adat yang berlandaskan syariat, dan syariat yang bersumber
dari Kitabullah falsafah ini bukan hanya slogan, tapi fondasi kehidupan
masyarakat Minangkabau. Dan Surau Kabbah, dengan segala aktivitasnya, sedang
berusaha menerjemahkan nilai itu dalam bentuk baru yang relevan dengan zaman.
Yang membuat Surau Kabbah berbeda dan begitu hidup adalah kenyataan
bahwa tempat ini tak hanya menjadi ruang ibadah atau pelatihan. Di sini,
tersedia juga sarana dan wahana bermain untuk anak-anak. Saat orang tua mereka
belajar atau beribadah, anak-anak bisa bermain dengan aman di sekitar surau.
Suara tawa mereka sering kali menjadi latar alami menyegarkan dan membuat
tempat ini terasa seperti rumah bersama.
Di sudut lainnya, tampak warga sekitar membuka lapak dagangan. Ada
yang menjual sate, es tebu, keripik sanjai, hingga minuman segar. Aktivitas ini
menambah semarak suasana. Interaksi kecil antara peserta pelatihan dan
pedagang, atau obrolan ringan antara ibu-ibu yang menunggu anaknya bermain,
semuanya menciptakan dinamika sosial yang hangat. Surau bukan hanya tempat
untuk “beribadah dalam diam”, tapi juga menjadi ruang sosial yang hidup dan
saling menghidupi.
Semua ini mengingatkanku kembali pada filosofi Minangkabau yang
mengajarkan bahwa hidup harus saling menghidupi. Di sini, aku melihat itu bukan
sekadar kata-kata, tapi benar-benar hidup dalam keseharian.
Di Minangkabau, surau dulu adalah tempat pendidikan utama tempat
anak laki-laki ditempa menjadi pribadi dewasa, mengenal adat, agama, dan
tanggung jawab. Namun dalam beberapa dekade terakhir, fungsi itu perlahan
memudar. Anak muda lebih banyak tinggal di dunia digital daripada di
ruang-ruang sunyi seperti surau.
Namun, Surau Kabbah mencoba membalikkan arah itu. Membangkitkan
kembali peran surau, tapi bukan dengan cara lama. Kini, surau bisa menjadi
tempat belajar teknologi, memahami pemasaran digital, membuat konten media
sosial semuanya tetap dibingkai dengan nilai-nilai kearifan lokal dan
spiritualitas.
Saat merekam video tadi, aku sadar, yang kutangkap bukan hanya
gambar bangunan, tapi juga semangat baru. Surau bukan sekadar kenangan masa
lalu, tapi juga bisa menjadi jembatan menuju masa depan. Siapa bilang adat dan
teknologi tak bisa berjalan bersama?
Mungkin perubahan tidak akan datang dalam sekejap. Tapi dari surau
kecil di pelosok nagari ini, aku merasakan denyut harapan. Bahwa modernitas tak
harus meninggalkan akar budaya. Bahwa belajar bisa di mana saja, bahkan dari
tempat yang selama ini kita anggap “klasik”.
Dan aku bersyukur, bisa menjadi bagian kecil dari cerita ini.
"Jika suatu hari kamu melewati Kabupaten Agam, sempatkanlah
mampir ke Surau Kabbah. Tempat ini bukan hanya surau, tapi ruang hidup yang
merawat nilai, membuka peluang, dan menyatukan masa lalu serta masa depan. Di
sana kamu bisa merasakan sendiri bagaimana tradisi dan teknologi berpadu dalam
harmoni yang bersahaja.
( Kunjungi lokasinya di Google Maps: https://g.co/kgs/9jCSRZL
)

