Cerita Kecil Woodplan Project dan Kesadaran Ekologis

WOODPLAN
0





Lihat dan dengarkanlah, alam sedang berbicara lewat banyak peristiwa yang mengkhawatirkan kehidupan kita. Es semakin cepat mencair di kutub, permukaan laut perlahan naik dan mengancam daratan pesisir, sementara kota-kota kita diliputi udara yang tak lagi sehat untuk dihirup. Sungai-sungai tercemar limbah, hujan deras datang di luar musim, dan hutan-hutan tropis terus menyusut demi lahan dan keuntungan sesaat. Hampir setiap minggu kita disuguhi berita tentang kekeringan berkepanjangan, banjir bandang, atau suhu panas ekstrem yang tak lagi bisa dianggap kebetulan. Di balik semua itu, ada satu kenyataan yang sulit dihindari manusia terlalu sering mengambil dari alam, tapi terlalu jarang mengembalikannya.


Sebagai seseorang yang menggeluti dunia kayu, aku sering merasa dilema. Kayu itu indah. Ia hangat, kokoh, dan memberi kesan tenang dalam setiap ruang. Tapi di balik keindahannya, aku tahu, ada pohon yang tumbang. Ada hutan yang kehilangan satu lagi penopangnya.


Dari keresahan itulah Woodplan Project tumbuh, bukan dari niat jadi besar, tapi dari keinginan sederhana, bisa membuat perabot yang baik, sambil tetap menghargai alam yang jadi sumbernya. Kami sadar, usaha ini bukan tanpa dampak. Tapi justru karena itulah kami ingin belajar bertanggung jawab, meski sedikit demi sedikit. Konsekuensi logis dari usaha ini adalah tetap adanya jejak ekologis yang kami tinggalkan, betapapun kecilnya, dan itu menjadi tanggung jawab moral yang harus kami pikirkan dan upayakan untuk dipulihkan.


Kami mulai dari apa yang bisa dijangkau, menggunakan kayu bongkaran. Bukan kayu baru dari pohon yang ditebang hari ini, tapi kayu dari rumah tua yang sudah dibongkar, bangunan lama yang tak terpakai, atau sisa konstruksi yang masih menyimpan kekuatan. Kadang kayunya berdebu, ada bekas paku, atau warnanya tak seragam, tapi justru di sanalah keindahannya. Ada cerita yang tertinggal, ada napas lama yang masih bisa dilanjutkan.


Memang tak selalu mudah. Memilih kayu bekas berarti harus lebih sabar. Kadang harus membersihkan satu per satu, menyambung, atau menyesuaikan desain dengan bahan yang ada. Tapi kami percaya, itu bagian dari proses, dan mungkin juga bentuk penghormatan. Bahwa kayu itu pernah hidup, pernah jadi rumah, pernah jadi lantai tempat anak-anak berlari. Dan kini, kami ingin menghidupkannya kembali jadi meja, rak, atau kursi yang juga punya cerita baru.


Kami juga menyadari, di bengkel, akan selalu ada potongan-potongan kayu yang terlalu kecil untuk jadi meja, terlalu pendek untuk jadi kursi. Dulu, sebagian mungkin berakhir di tempat sampah. Tapi sekarang kami mulai mengumpulkannya. Belum semuanya bisa kami olah lagi, tapi ada rencana ke depan, mungkin jadi aksesoris kayu, gantungan, atau karya kecil lainnya. Ini masih mimpi, tapi kami ingin belajar mewujudkannya, pelan-pelan, seiring langkah kami tumbuh.


Ada satu hal lagi yang ingin kami lakukan, sebagai bentuk syukur kami kepada alam. Kami menanam pohon. Kami menyebutnya dengan sederhana, “Satu produk, satu pohon.” Bukan untuk mengganti pohon yang sudah tumbang, karena kami tahu satu bibit belum cukup. Tapi setidaknya, ini bentuk ikhtiar. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang baik setelah mengambil. Kami tanam bibit itu dengan tangan sendiri, bersama teman-teman dan komunitas. Kami ingin mereka tumbuh tinggi suatu hari nanti, lebih tinggi dari semua yang kami buat hari ini.


(Gambar jelang Aksi Penanman Pohon dibeberapa kawasan hutan Kab Agam dan Tanah datar)

Semua ini bukan semata soal bisnis atau kelestarian lingkungan, tapi juga soal keimanan. Dalam ajaran yang kami yakini, manusia tidak diciptakan sebagai penguasa atas bumi, melainkan sebagai khalifah fil ardh, wakil Tuhan di muka bumi. Tugas khalifah bukan mengambil seenaknya, tapi merawat. Bukan mengeksploitasi, tapi menjaga. Dan kami percaya, setiap tindakan kecil yang kami lakukan di bengkel kayu ini adalah bagian dari amanah itu.


Woodplan Project bukan usaha besar. Kami bukan perusahaan dengan teknologi canggih atau pabrik besar. Tapi kami punya hati, dan kami percaya itu cukup sebagai awal. Kami masih belajar, masih banyak yang harus diperbaiki, dan masih sering ragu apakah langkah kami cukup berarti. Tapi kami tahu satu hal, kami tidak ingin membuat sesuatu yang hanya indah dilihat, tapi menyisakan luka bagi bumi.


Kami ingin perabot yang kami buat terasa hangat bukan hanya karena kayunya, tapi juga karena cara kami memperolehnya. Kami ingin setiap potong kayu yang kami sentuh mengingatkan kami untuk rendah hati, bahwa semua ini ada karena alam memberi, dan tugas kita adalah menjaga.


Tulisan ini bukan hanya cerita kami, tapi juga bagian dari refleksi kita bersama. Refleksi atas cara hidup kita, atas pilihan-pilihan kecil yang ternyata berdampak besar. Kita mungkin tak bisa mengubah dunia dalam semalam, tapi kita bisa memulai dari diri sendiri. Dari pekerjaan yang kita tekuni, dari barang yang kita pilih, dari sisa yang kita olah kembali. Kita semua adalah bagian dari perjalanan ini. Dan semoga, dengan cara kita masing-masing, kita bisa menjaga bumi, rumah kita bersama agar tetap layak ditinggali hari ini dan esok nanti.

 

Post a Comment

0 Comments
Post a Comment (0)